Selasa, 24 Januari 2012

Grebeg Sudiro 2012: Simbol Eratnya Toleransi Warga Solo

Solo tampil lagi ke depan publik dengan berita menggembirakan lain setelah akhir-akhir ini kita membaca banyak media memberitakan kebolehan Walikota Jokowi mengambil hati masyarakat dengan menjadikan mobil produksi anak-anak SMK, Kiat Esemka, sebagai mobil dinas. Dengan mengusung tema "Guyub Rukun Agawe Santosa: Sudiro Kampung Kebhinekaan, Bersatu dalam Keberagaman", warga Solo memeriahkan pergelaran menyambut perayaan Imlek, Grebeg Sudiro 2012, pada Minggu 15 Januari lalu. Dimulai dengan perarakan kirab yang diikuti oleh kira-kira 1.800-2.000 orang, acara ini mendapatkan sambutan yang luar biasa meriah dari masyarakat Solo pada umumnya.
Grebeg Sudiro adalah sebuah pesta. Bukan hanya pesta perayaan menyambut datangnya Tahun Baru Sincia, namun juga perayaan atas indahnya keberagaman dan toleransi. Meskipun Sincia atau Imlek identik dengan warga keturunan Tionghoa, dalam perayaan ini semua orang melebur menjadi satu tanpa mempedulikan latar belakang ras dan keturunannya. Selain dimeriahkan oleh dua etnis yang berbeda, kostum yang dipakai oleh para panitia dan peserta kirab ada dua macam, pakaian dengan motif Tiongkok dan pakaian khas Jawa.
Kelurahan Sudiroprajan yang memiliki ide digelarnya acara tahunan ini menjadi start kirab yang kemudian dilanjutkan ke Jalan Sudirman – Jalan Mayor Sunaryo – Jalan Kapten Mulyadi – Jalan R.E. Martadinata – Jalan Cut Nyak Din – Jl Ir. Juanda dan berakhr di Pasar Gede. Semua peserta kirab memakai seragam yang telah disediakan. Sebanyak sembilan gunungan dihadirkan dengan satu gunungan utama yang ikut diarak diiringi oleh penari-penari yang mengikuti alunan musik sepanjang perarakan.
Kelurahan Sudiroprajan atau yang biasa dikenal sebagai kampung Balong merupakan "Pecinan"-nya kota Solo. Warga di sana yang mayoritas keturunan Tionghoa menggagas acara Grebeg Sudiro ini lima tahun silam. Dari tahun ke tahun, perayaan menjadi semakin meriah, ditandai dengan semakin banyaknya peserta dan penonton yang menghadiri perayaan.

Tak hanya atraksi khas Tiongkok seperti barongsai, liong, wushu, dan taichi, atraksi Indonesia seperti jathilan, turonggo seto, dan reog juga turut mewarnai acara Grebeg Sudiro. Selain itu, makanan yang disediakan tak hanya kue kranjang, kue yang identik dengan perayaan Imlek, namun juga ada kue-kue jajanan pasar.
Ketua panitia Yunanto Nugroho berujar, perayaan seperti Grebeg Sudiro ini bisa menjadi simbol pemersatu antara satu etnis dengan etnis lainnya yang tinggal di suatu wilayah, khususnya wilayah Sudiroprajan. Wakil Walikota Solo F.X. Hadi Rudyatmo pun turut datang dan memberikan sambutan pada acara ini. Senada dengan Yunanto, ia berharap Grebeg Sudiro bisa menjadi alat pemersatu bangsa. Dalam sambutannya, ia juga mengucapkan rasa syukur karena baik jumlah peserta maupun penonton terus bertambah.

Antusiasme warga Solo sangatlah besar terhadap acara Grebeg Sudiro ini. Walaupun acara direncanakan dimulai pada jam 2 siang, masyarakat sudah menyemut memenuhi rute kirab dan tentunya Pasar Gede sejak pukul 1 siang. Sembilan gunungan langsung ludes diserbu warga begitu iring-iringan kirab sampai di depan Pasar Gede. Sebanyak kurang lebih 4.000 kue kranjang disediakan tahun ini, lebih banyak hampir dua kali lipat dari acara Grebeg Sudiro 2011 yang menghidangkan sekitar 2.500 kue.
Selain menjadi ajang berbaurnya warga beda keturunan di Solo, acara Grebeg Sudiro juga diharapkan bisa menjadi media promosi pariwisata kota Solo. Terlepas dari beberapa kekurangan seperti kurangnya koordinasi penataan penonton sehingga terlihat semrawut dan masalah sampah yang ditinggalkan selepas acara berakhir, acara yang bisa menyulut rasa persatuan dan kesatuan di dalam masyarakat ini perlu mendapat dukungan dari semua lapisan masyarakat. Pangkalan Berita Unik
Sumber
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | JCPenney Coupons